MENGGAPAI KEBERKAHAN HIDUP DENGAN
TASBIH-TASBIH CINTA
“Dalam tubuh manusia terdapat
segumpal daging yang apabila ia baik maka baiklah seluruh amalnya dan apabila
ia buruk maka buruklah amalnya ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”
Begitulah
dikatakan dalam sebuah hadist yang mengisyaratkan kita untuk menjaga hati.
Kiat-kiat menjaga hati dalam praktiknya memang perlu ketulusan dalam
menerimanya. Dalam setiap langkah perbuatan kitapun harus hati-hati menjaga
niat. Bahkan seorang salaf mengatakan,” sesungguhnya barang siapa yang
mempersaksikan dirinya telah ikhlas maka sungguh dia masih butuh untuk ikhlas
lagi.” Itu baru menjaga hati dalam meluruskan niat setiap perbuatan kita. Belum
lagi menjaga seperti dengki,riya’,ujub,sombong dan penyakit-penyakit hati
lainnya. Na’udzu billahi min dzalik
Semua yang ada di hati
kita,otak kita dan pikiran kita akan dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT tidak
menciptakan dengan sia-sia. Semua akan penuh makna dan hikmah yang dapat
diambil jika kita mau untuk merenung dan memikirkan kebesaran Allah.
Saudaraku,
adakah yang lebih indah dari sempurnanya gambaran semesta, indahnya lukisan
alam, elok rupawan hamparan bumi, serta
teraturnya orbit tata surya? Adakah yang lebih baik dari kasih sayang-Nya?
Hanya Allah yang selalu menawarkan pahala setiap waktu, menjamin rizki dan
menjaga kita mulai dari pejaman mata sampai bangunnya kelopak dari singgasananya.
Dengan bimbingan-Nya lah kita tidak salah nelangkah, mata kita terjaga dari
dosa, perut terhindar dari makanan haram, terputus jalinan dari sahabat yang
buruk serta terlepasnya lisan dari perbincangan yang sia-sia.
Subhanallah,begitulah setiap keindahan semestinya membuat kita bertasbih. (Yus
Ibnu Yasin dalam karyanya Membumikan Cinta)
Terkadang
kita terlalu disibukkan dengan urusan kampus, kantor ataupun pekerjaan yang
sifatnya duniawi atau bahkan sampai ada yang menggunakan kecurangan hanya untuk
mendapatkan sesuatu yang sifatnya fana ini.Hal ini dapat terjadi karena tidak diimbangi dengan mengisi ruhiyah kita,
sehingga orang hanya terpaku pada tujuan yang sifatnya duniawi. Padahal semua
yang bersifat duniawi ini harusnya menjadi sarana guna menggapai akherat kita.
Tak terkecuali niat di setiap perbuatan kita.
Misalnya saja sebagai mahasiswa tujuannya adalah menuntut ilmu yang
kelak akan diaplikasikan untuk kemanfaatan umat. Seorang yang bekerja tujuannya
agar menjadi orang yang mampu sehingga tidak membebani orang lain dan dapat membantu sesama. Maka hendaknya disetiap
awal aktivitas, kita niatkan karena Allah.
Ilmu yang
kita pelajari baik ilmu duniawi seperti matematika,kimia,fisika, dan ilmu-ilmu
sosial yang sifatnya fardhu kifayah maupun ukhrowi seperti tauhid,ibadah dan akhlak yang
bersifat fardhu ‘ain. Ilmu agama ini yang harus kita pegang terlebih dahulu
karena orang yang telah mendalami ilmu agama dengan baik akan dapat
mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya.
Keberkahan hidup
ini dapat diperoleh kalau kita mampu
mensyukuri nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Allah, ikhlas dalam setiap
amal. Bersyukur adalah sikap yang harus
ada dalam diri setiap insan beriman, baik dalam kondisi lapang maupun
sempit. Seperti pepatah mengatakan “Tak
ada gading yang tak retak “ setiap insan pasti dianugerahi kelebihan dan
kekurangan, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tekadang kita masih suka
mengeluh dengan keadaan kita padahal di ujung dunia sana ada yang lebih
kekurangan. Sunggguh banyak sekali nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan
untuk kita. Yang utama adalah nikmat iman dan islam ini, nikmat sehat dan waktu
lapang, nikmat bisa menuntut ilmu dan masih banyak lagi nikmat yang tak dapat
dihitung. Bahkan dari setiap hela nafas kita itu adalah nikmat,bayangkan saja
jika harus menggunakan tabung oksigen namun kita dapat menghirup oksigen dengan
bebas tanpa harus mengeluarkan uang. seperti
dalam firmanNya “Jika kamu bersyukur Allah akan menambah nikmat dan jika kamu
kufur maka sesungguhnlya azabKu sangat pedih”. Maka dari itu bersyukurlah
dengan karunia yang telah Allah SWT anugerahkan. Syukur itu dapat diwujudkan
dengan lisan kita,kemudian diwujudkan dalam tindakan sebagai pendukung rasa
syukur itu.
Ketika masalah
datangpun maka ingatlah Allah, Karena segala sesuatu itu datangnya dari Allah
maka dalam keadaan bagaimanapun dan kapanpun harus ingat Allah SWT. Waktu
adalah salah satu nikmat Allah yang sering dilalaikan. Pepatah mengatakan
“waktu adalah pedang”, ia akan mengancam kita kalau tidak dipergunakan dengan
baik. Kita harus lewati setiap detik waktu yang telah dianugerahkankan ini dengan sesuatu yang bermanfaat. Tentunya
dengan senantiasa berdzikir setiap saat. Biasanya yang sering dilalaikan adalah
ketika waktu luang, maka gunakanlah untuk hal yang bermanfaat seperti membaca,
menulis dan berpikir. Berpikir disini adalah memikirkan tentang diri kita, alam
semesta yang dimaksudkan untuk muhasabah
dan taqarrub illallah.
Dari apa yang
sudah dipaparkan intinya dalam hidup ini kita harus senantiasa memperbaiki
akhlak kita. Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa Sebaik-baik iman seseorang
adalah yang paling baik akhlaknya. Disamping itu tentunya kita juga harus
senantisa memperbaiki ibadah kita, baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Meningkatkan
ibadah wajib ditambah dengan ibadah – ibadah sunah seperti shalat malam, puasa
sunah, sadaqah dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan kalau sudah bisa
mempraktekkannnya maka diperlukan istiqamah untuk menjalankannya
InsyaAllah
kalau niat kita baik maka hasil yang kita peroleh juga akan baik. Kadang sesuatu
itu datang tanpa kita sangka – sangka , Kebaikan itu datang dari kebaikan,jadi
jangan pernah lelah untuk melakukan kebaikan. Sibukkanlah diri dengan kebaikan…
Waallahua’lam bishawwab
Semoga tulisan ini bermanfaat…Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar