Dari Buku “Prophetic Learning” Karya Dwi Budiyanto
Agar belajar menjadi berkah :
1. Motivasi
yang ikhlas (ikhlas an-niyyah)
Dalam belajar
yang harus melandasi adalah mencari keridhaan
Allah,bukan karena dorongan motivasi lain.
2. Belajar
dengan sebaik-baiknya (itqan al-‘amal)
3. Pemanfaatan
hasil usaha (belajar) dengan tepat (jaudah al-ada’)
Yakni
dimanfaatkan untuk kepentingan Islam dan umat Islam serta masy umum.
Cognitive setting (penataan
pikiran) akan menentukan mental setting (penataan mental,kepribadian). Ibnu
Al-jauzi, “Barang siapa menggunakan pikirannya yang jernih,hal ini menunjukkan
bahwa ia sedang mencari kedudukan yang mulia dan menghindari kekurangan dalam
segala hal.”
Dari Abu Hurairah r.a., ia
berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih
disukai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya.
Bersemangtlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan
kepada Allah dan jangan merasa tidak mampu. Kalau tertimpa sesuatu,janganlah
mengucap: ‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan
begitu,tetapi katakanlah,’Apa yang ditetukan Allah dan apa yang dikehendaki-Nya
pasti akan terjadi. Karena kata ‘seandainya’ itu akan memberi jalan kepada
setan.”
Program Ikhtiari: Peneguhan
diri
1. Harus
positif
Kita perlu
memiliki afirmasi positf untuk mempertegas kemauan kita dalm belajar, bahwa
sesungguhnya kitapun bisa untuk menguasai banyak bidang keilmuan.
2. Menggunakan
kallimat dengan waktu sekarang
Gunakan
kalimat, “InsyaAllah, sejak saat ini aku harus rajin belajar dengan gigih dan
ulet.”
3. Perlu
menyertakan keterlibatan psikologis
Kita perlu
melibatkan emosi kita ketika mengucapkannya. Oleh karena itu kata-kata yang
kita ucapkan sebaiknya mesngandung
dorongan untuk berprestasi dan optimism yang tinggi.
4. Yakinlah
bahwa Allah akan menolong hamba-Nya
Selalu
berpikirlah positif,sebab Islam menghendaki demikian.
Program Ikhtiari: Cerdas dalam
berdoa
1. Iringi
doa dengan kegigihan dalam belajar.
2. Pnjatkandoa
dengan pikiran dan emosi positif.
3. Hindari
kemaksiatan dan segala makanan yang diharamkan
Allah. Ia akan mengahalangi psngabulan doa, penghalang bagi akal dan
jiwa kita untuk memahami ilmu.
4. Berdoalah
dengan kekhusukan, keikhlasan, kesungguhan , dan menyertakan hati secara penuh
pada Allah.
Langkah dalam menata mental :
1. Menumbuhkan
kemauan (al Iradah)
·
Obsesi dan Kuriositas
·
Cinta
·
Muraqabah (perasaan selalu diawasi Allah)
·
Gerak
2. Melahirkan
Efikasi Diri
Keinginan
yang kuat untuk sukses, yang muncul dari keyakinan diri
3. Mendayakan
Kesabaran
·
Sabar dalam menghadapi kekurangan sarana
·
Kesabaran dalam menangkal godaan selama belajar
·
Kesabaran dalam memahami materi
Kesusahan tidaklah konstan, ia
akan segera beralih menjadi kemudahan jika seseorang sanggup bertahan dan
menunda kepuasan.
Perbutan maksiat dapat
menyebabkan 2 hal dalam proses belajar seseorang:
1. Menurunkan
kemampuan mengingat,menjadikan mudah lupa
2. Melemahkan
kemauan seseorang terutama dalam berbuat kebaikan (QS. Taha[20]:115)
Hasyim Asya’ari dalam Adabul
‘Alimwa al-Muta’allim memberikan saran dalam pengelolaan waktu belajar :
1. Jangan
menyia-nyiakn waktu dalam belajar
2. Waktu
terbaik menghafal adalah waktu sahur atau mejelang Subuh
3. waktu
terbaik membahas pelajaran adalah pagi hari
4. Waktu
terbaiki menulis adalah siang hari
5. Sementara
kegiatan muthala’ah (mengkaji pelajaran)dan mudzakarah (berdiskusi) sangat efektif
dilakukan pada malam hari
Program Ikhtiari:
1. Lakukan
pekerjaan yang tidak biasa yamg menunjang pengembangan diri anda.
2. Berlkulah
aktif saat belajar, baik di kelas ataupun sendiri
3. Lakukan
aktivitas intelektual yang menantang sepanjang hidup seperti membaca, menulis
dan berpikir.
